Selasa, 13 Oktober 2009

teori analisis wacana kritis

Jawaban soal UAS
Mata Kuliah : Teori Dan Filsafat Komunikasi
Dosen : Dr. Asep S. Muhtadi M.Si
Semester : I
Mahasiswa : Buyung Pambudi
NIM : 2008912001

Teori Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough
1. Latar Belakang Teori Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough.
Menurut Eriyanto (Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media), Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat.
Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.
Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) — Analisis Isi (kuantitatif).
Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. –Analisis Framing (bingkai).
Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).
Mengenai paradigma kritis, Stephen W. Littlejohn, seperti dikutip Alex Sobur, menjelaskan: “Perkembangan teori komunikasi massa yang didasarkan pada tradisi kritis Eropa (Marxis) cenderung memandang media sebagai alat ideologi kelas dominan. Tradisi Eropa berusaha mematahkan dominasi model komunikasi Amerika yang notabene adalah penganut aliran Laswellian ataupun stimulus-respon, teori yang berasumsi khalayak adalah konsumer pasif media massa. Dengan kata lain, fenomena komunikasi massa bukanlah sekedar sebuah proses yang linear atau sebatas transmisi (pengiriman) pesan kepada khalayak massa, tetapi dalam proses tersebut komunikasi dilihat sebagai produksi dan pertukaran pesan (atau teks) berinteraksi dengan masyarakat yang bertujuan memproduksi makna tertentu.”
Salah satu tokoh pendiri analisis wacana kritis adalah Norman Fairclough . Sebagai ilmuwan eropa, hasil pemikiran Norman Fairclough tentang analisis wacana kritis dipengaruhi oleh sejumlah pemikir Eropa. Ada tiga wilayah keilmuan yang cukup berpengaruh pada hasil-hasil pemikiran Norman Fairclough. Perama, di bidang bahasa, pemikiran norman fairclough dipengaruhi oleh Mikhail Bakhtin dan Michael Halliday. Kedua, dipengaruhi oleh pemikir sosioligi diantaranya Pierre Bourdieu dan Michel Foucault. Ketiga, Norman Fairclough cukup dipengaruhi oleh teori-teori tentang ideologi, yakni hasil pemikiran Antonio Gramsci dan Louis Althusser. Khusus Louis Althusser dan Antonio Gramsci, pemikiran keduanya memiliki akar teoritis cukup kuat pada pemikiran Karl Marx.
Oleh karena itu, analisis wacana kritis milik Norman Fairclough, menganggap bahwa teks di dalam media bukanlah sebuah entitas netral dan terlepas dari kepentingan. Untuk mengetahui kepentingan yang ada di balik media diperlukan analisis mendalam terhadap teks di dalam media, proses produksi teks dan latar belakang sosial-budaya-politik melalui analisis wacana kritis.
Bahwasanya dalam analisis wacana seorang peneliti atau penulis melihat teks sebagai hal yang memiliki konteks baik berdasarkan “process of production” atau “text production”, “process of interpretation” atau “text consumption” maupun berdasarkan praktik sosio-kultural. Dengan demikian, untuk memahami wacana (naskah/teks) kita tak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks kita memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks. Dikarenakan dalam sebuah teks tidak lepas akan kepentingan yang yang bersifat subyektif.
Didalam sebuah teks juga dibutuhkan penekanannya pada makna (Meaning) (lebih jauh dari interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya pikir dan akal budi). Artinya: Setelah kita mendapat sebuah teks yang telah ada dan kita juga telah mendapat sebuah gambaran tentang teori yang akan dipakai untuk membedah masalah, maka langkah selanjutnya adalah kita memadukan kedua hal tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut kita memakai sebuah teori untuk membedahnya.
Kemudian Norman fairclough mengklasifikasikan sebuah makna dalam analisis wacana sebagai berikut:
a. Translation (mengemukakan subtansi yang sama dengan media). Artinya: . Pada dasarnya teks media massa bukan realitas yang bebas nilai. Pada titik kesadaran pokok manusia, teks selalu memuat kepentingan.
Teks pada prinsipnya telah diambil sebagai realitas yang memihak. Tentu saja teks dimanfaatkan untuk memenangkan pertarungan idea, kepentingan atau ideologi tertentu kelas tertentu. Sedangkan sebagai seorang peneliti memulainya dengan membuat sampel yang sistematis dari isi media dalam berbagai kategori berdasarkan tujuan penelitian.
b. Interpretation (berpegang pada materi yang ada, dicari latarbelakang, konteks agar dapat dikemukakan konsep yang lebih jelas).
Artinya: Kita konsentrasi pada satu pokok permasalahan supaya dalam menafsirkan sebuah teks tersebut kita bisa mendapat latar belakang dari masalah tersebut sehingga kemudian kita bisa menentukan sebuah konsep rumusan masalah untuk membedah masalah tersebut.
c. Ekstrapolasi (menekankan pada daya pikir untuk menangkap hal dibalik yang tersajikan). Artinya: kita harus memakai sebuah teori untuk bisa menganalisis masalah tersebut, karena degnan teori tersebut kita bisa dengan mudah menentukan isi dari teks yang ada.
d. Meaning (lebih jauh dari interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya pikir dan akal budi).
Artinya: Setelah kita mendapat sebuah teks yang telah ada dan kita juga telah mendapat sebuah gambaran tentang teori yang akan dipakai untuk membedah masalah, maka kita langkah selanjutnya adalah kita memadukann kedua hal tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut kita memakai sebuah teori untuk membedahnya.

Dalam analisis wacana, Norman Fairclough juga memberikan tingkatan, sebagai berikut:
1. Analisis Mikrostruktur (Proses produksi): menganalisis teks dengan cermat dan fokus supaya dapat memperoleh data yang dapat menggambarkan representasi teks. Dan juga secara detail aspek yang dikejar dalam tingkat analisis ini adalah garis besar atau isi teks, lokasi, sikap dan tindakan tokoh tersebut dan seterusnya.
2. Analisis Mesostruktur (Proses interpretasi): terfokus pada dua aspek yaitu produksi teks dan konsumsi teks.
3. Analisis Makrostruktur (Proses wacana) terfokus pada fenomena dimana teks dibuat.
Dengan demikian, menurut Norman Fairclough untuk memahami wacana (naskah/teks) kita tidak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks kita memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks.

2. Posisi metodologis analisis wacana kritis Norman Fairclough.
Sebagai sebauh hasil pemikiran yang bisa dikategorikan sebagai hasil pemikiran kontemporer di bidang komunikasi, analisis wacana kritis milik Norman Fairclough cukup gencar manyatakan bahwa teks/naskah di media selalu tidak lepas dari konteks sosial. Dengan mengetahui pertautan dan bahkan pertarungan kepentingan dibalik teks/naskah di media akan mematahkan sebuah anggapan yang menyatakan bahwa teks/naskah di media merupakan produk yang netral-obyektif.
Dengan demikian, secara tegas analisis wacana kritis masuk dalam kategori teori yang menggunakan perspektif subyektif.
Analisis wacana kritis juga masuk dalam kategori teori yang menggunakan pendekatan kualitatif-naturalistik. Hal tersebut tercermin dari usaha analisis wacana kritis untuk mengungkapkan kenyataan di balik teks/naskah di media dengan keterkaitannya dengan konteks produksi teks, konsumsi teks dan aspek sosial-budaya-politik yang mempengaruhi pembuatan teks. Berbeda dengan teori komunikasi lain semisal teori Shannon dan Weaver yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Mathematical Theory of Communication tahun 1949. Dalam teori Shannon dan Weaver tersebut, untuk menganalisa proses komunikasi, maka bisa diteliti menggunakan rumus matematika. Teori Shannon dan Weaver tersebut masuk dalam kategori Obyektif-Positvistik, sedangkan analisis wacana kritis masuk dalam teori yang menggunakan pendekatan Subyektif-Kualitatif dan tentu saja Naturalistik.
Selain masuk dalam teori yang menggunakan pendekatan kualitatif-naturalistik, analisis wacana kritis juga masuk dalam kategori non-linier. Berbeda dengan teori Laswell yang menjelaskan proses komunikasi sebagai proses yang linier antara siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa dan memiliki pengaruh apa. Analisis wacana kritis mencoba mengurai proses komunikasi melalui media massa dengan cara yang tidak linier seperti teori Laswell. Sebagai sebuah hasil pemikiran yang mencoba untuk memberikan pencerahan bagi khalayak, analisis wacana kritis mendahulukan ‘kecurigaan’ pada awal analisisnya. Teks media, media, para pekerja media dianggap sebagai sebuah entitas yang memiliki keterkaitan ideologis tertentu.

3. analisis wacana kritis dalam praktek.
Untuk mengetahui secara lebih dalam bagaimana pola operasional analisis wacana kritis, maka penulis mencoba untuk menganalisis teks media dari dua media yang berbeda tentang pelaksanaan pemilihan presiden pada tanggal 8 Juli 2009. Media yang akan dicoba diteliti oleh penulis adalah koran harian Jawa Pos dan Media Indonesia. Penulis memfokuskan analisis pada isi editorial (tajuk rencana) dua koran tersebut pada tanggal 8 Juli 2009.
Pada editorial koran Jawa Pos tanggal 8 Juli 2009 tertulis Selamat Mencontreng , dalam editorial tersebut terdapat sejumlah kalimat berisi adanya persoalan menjelang pelaksanaan pemilihan presiden pada tanggal 8 Juli 2009. Salah satu persoalan tersebut adalah daftar pemilih tetap. Di editorial koran Jawa Pos tersebut tertulis kalimat:
“Di tengah ribut soal daftar pemilih tetap (DPT), kita bangga bangsa ini akhirnya bisa menyelenggarakan pilpres kedua (setelah 2004) secara langsung sesuai jadwal.”

Meski dalam editorial tersebut tertulis adanya persoalan daftar pemilih tetap (DPT), namun si penulis dalam editorial mengungkapkan rasa bangganya karena pemilihan presiden akhirnya berjalan sesuai jadwal. Di akhir tulisan editorial, terdapat kalimat yang relatif mirip dengan sebuah iklan politik milik salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Kita butuh pemimpin yang bersih, cakap, tegas dan punya komitmen membawa kemakmuran bagi negeri ini. Pilihan itu kita serahkan kepada para pemilih dari Aceh hingga pegunungan Jaya Wijaya Papua, yang semoga hari ini bisa mencontreng secara aman, langsung, bebas dan rahasia di TPS masing-masing.”

Kemiripan kalimat yang digarisbawahi dengan slogan salah satu kandidat capres-cawapres tersebut kalau dianalisis dengan analisis wacana kritis milik Norman Faicrclough bisa menimbulkan pernyataan, kenapa koran Jawa Pos pada tanggal 8 Juli 2009 tersebut memilih membuat editorial dengan judul, isi dan penutup seperti itu.
Kemudian, penulis mencoba membandingkan editorial koran Jawa Pos dengan koran Media Indonesia. Di koran Media Indonesia editorialnya berjudul “Dua Putaran Lebih Seru”. Dari judulnya, Media Indonesia mencoba menghadirkan wacana bahwa pilpres dua putaran akan lebih seru dibanding dengan pilpres satu putaran. Pilpres satu putaran pernah dimunculkan oleh salah satu lembaga survei yang diduga menjadi ‘tim pemenangan’ salah satu pasangan capre-cawapres.
Selain membuat judul yang cukup berbeda dengan koran Jawa Pos, isi di dalam editorial Media Indonesia tanggal 8 Juli 2009 juga tertulis cara pandang yang berbeda tentang persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Berikut petikan isi editorial Media Indonesia terkait persoalan DPT.
“Contoh paling kentara penyakit demokrasi prosedural adalah daftar pemilih tetap yang masif dengan pemilih fiktif. Komisi Pemilihan Umum tahu dan terus diprotes karena memberlakukan DPT yang fiktif itu. Namun, KPU tidak mau memperbaiki karena takut melanggar undang-undang. Padahal ada ruang KPU untuk mengubah.”

Dalam isi editorial tersebut cukup jelas tergambar bahwa ada persoalan DPT yang dinilai menjadi penyakit demokrasi prosedural. Bahkan, di situ tertulis bahwa KPU sebenarnya bisa memperbaiki DPT, namun dinilai tidak mau memperbaiki DPT. Paragraf berikutnya dari isi editorial Media Indonesia tertulis sebagai berikut:
“Pemerintah pun tahu tentang DPT yang sarat dengan nama fiktif. Tetapi pemerintah cuci tangan dengan mengatakan soal DPT adalah wewenang KPU. Padahal presiden memiliki hak memberlakukan perppu untuk memperbaiki kesalahan yang sangat kasatmata. Bagaimana mungkin sebuah negara dan pemerintahan berjalan bila tidak ada lembaga yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap DPT?.”

Pada kalimat yang bergaris bawah, tertera cukup jelas bahwa editorial Media Indonesia tersebut mengkritikp pemimpin pemerintahan nasional yang juga sedang ikut menjadi kontestan pilpres.

4. kesimpulan
Dari uraian di atas, terdapat perbedaan judul dan isi tulisan di dalam editorial dua surat kabar tersebut. Dari teks atau tulisan di dalam editorial kedua baik koran Jawa Pos maupun Media Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks produksi teks, konsumsi teks dan latar belakang sosial-budaya-politik lembaga produksi kedua koran harian tersebut. Lembaga produksi diantaranya meliputi, kepemilikan saham perusahaan, ideologi politik yang dianut oleh pemilik media. Hasil tulisan yang disajikan kedua koran harian tersebut juga tidak lepas dari segementasi pasar pembaca mana yang menjadi sasaran konsumen kedua koran harian ini.
Dengan membandingkan dan menganalisis isi teks dalam editorial koran Jawa Pos dan Media Indonesia dengan konteks yang ada, kita bisa sedikit paham wacana apa yang dominan dan menjadi anutan media tersebut. Di sinilah alur kerja analisis wacana kritis milik Norman Fairclough bisa menyuguhkan sebuah ‘realita’ di balik tulisan dalam editorial kedua koran harian tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar